CILACAP, TeropongJateng.id – SMP Pius Cilacap membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 dengan menghadirkan Kelas Inspirasi Film, Senin, 14 Juli 2026. Berbeda dengan pelaksanaan MPLS pada umumnya, kegiatan ini tidak hanya diikuti siswa baru, tetapi juga melibatkan siswa kelas VIII dan IX untuk memperkuat kreativitas, karakter, serta literasi digital.
Kelas Inspirasi Film menjadi pembuka rangkaian MPLS yang berlangsung selama tiga hari. Sekolah menggandeng praktisi perfilman untuk memperkenalkan proses kreatif pembuatan film sekaligus mendorong siswa memanfaatkan teknologi digital sebagai media berkarya.
Urusan Kesiswaan SMP Pius Cilacap, Thomas Sutasmas, mengatakan keterlibatan seluruh jenjang kelas merupakan bagian dari konsep MPLS yang dikembangkan sekolah. Menurut dia, materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan setiap tingkat.
“MPLS di SMP Pius tidak hanya kelas VII, tetapi juga kelas VIII dan IX. Kelas VII lebih pada pengenalan guru, teman, dan lingkungan sekolah. Sementara kelas VIII dan IX diarahkan pada penguatan motivasi belajar, tata krama, serta pembaruan pemahaman terhadap aturan sekolah,” kata Thomas.
Thomas menjelaskan, pemilihan tema perfilman pada hari pertama bukan tanpa alasan. Kemampuan memproduksi konten visual dinilai menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan di era digital. Sekolah berharap siswa tidak hanya menjadi penikmat media, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang kreatif, edukatif, dan bermanfaat.
“Tujuan kami mengundang praktisi film agar anak-anak memiliki bekal untuk membuat karya. Ke depan kami ingin mengadakan lomba film pendek antarkelas yang dapat menjadi ruang kreativitas sekaligus media promosi sekolah,” ujarnya.
Menurut Thomas, antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak peserta aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan mengenai proses produksi film, mulai dari menemukan ide cerita hingga teknik penyajian visual.
Ketua Yayasan Singgasana Multimedia Jaya, Agung Dwijatmoko, yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, memperkenalkan tahapan produksi film melalui pemutaran karya Benang Merah Keluarga dan Perlon. Kedua film itu mengangkat persoalan sosial sebagai contoh bahwa ide cerita dapat lahir dari realitas kehidupan sehari-hari.
Agung mengatakan pembuatan film merupakan proses kreatif yang dimulai dari penyusunan ide, premis, logline, skenario, hingga storyboard sebelum masuk ke tahap produksi.
“Harapan kami, siswa memahami proses kreatif sejak menggali ide cerita, menyusun premis, logline, storyboard, hingga skenario. Dengan begitu mereka terdorong menghasilkan karya yang memiliki pesan dan nilai edukasi,” kata Agung.
Ia juga mengajak siswa memanfaatkan telepon pintar sebagai alat produksi konten yang produktif. Menurut dia, gawai tidak hanya digunakan untuk mengakses media sosial, tetapi juga dapat menjadi sarana membuat film pendek, video edukasi, maupun karya kreatif yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah.
Rangkaian MPLS di SMP Pius Cilacap akan dilanjutkan dengan materi kesehatan reproduksi remaja, kemudian ditutup dengan edukasi kesehatan mata, pencegahan perundungan, serta sosialisasi sekolah ramah anak. Melalui pendekatan tersebut, sekolah berharap MPLS menjadi ruang pengembangan karakter, kreativitas, dan keterampilan siswa untuk menghadapi tantangan di era digital.
